News Update :

Moto GP News

Basketball News

Ekonomi

Formula 1 News

Nasional

Asmaul Husna 99 Nama Alloh yang maha segalanya

Kamis, 19 Januari 2012

Dalam agama Islam, Asmaa'ul husna adalah nama-nama Allah ta'ala yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berati yang baik atau yang indah jadi Asma'ul Husna adalah nama nama milik Alloh ta'ala yang baik lagi indah.
Sejak dulu para ulama telah banyak membahas dan menafsirkan nama-nama ini, karena nama-nama Alloh adalah alamat kepada Dzat yang mesti kita ibadahi dengan sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak boleh musyrik dalam mempergunakan atau menyebut nama-nama Alloh ta'ala. Selain perbedaaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat pula perbedaan jumlah nama, ada yang menyebut 99, 100, 200, bahkan 1.000 bahkan 4.000 nama, namun menurut mereka, yang terpenting adalah hakikat Dzat Allah SWT yang harus dipahami dan dimengerti oleh orang-orang yang beriman seperti Nabi Muhammad SAW.
Asmaaulhusna secara harfiah ialah nama-nama, sebutan, gelar Alloh yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Alloh yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Alloh.
Para ulama berpendapat bahwa kebenaran adalah konsistensi dengan kebenaran yang lain. Dengan cara ini, umat Muslim tidak akan mudah menulis "Alloh adalah ...", karena tidak ada satu hal pun yang dapat disetarakan dengan Alloh, akan tetapi harus dapat mengerti dengan hati dan keteranga Al-Qur'an tentang Allah ta'ala. Pembahasan berikut hanyalah pendekatan yang disesuaikan dengan konsep akal kita yang sangat terbatas ini. Semua kata yang ditujukan pada Alloh harus dipahami keberbedaannya dengan penggunaan wajar kata-kata itu. Alloh itu tidak dapat dimisalkan atau dimiripkan dengan segala sesuatu, seperti tercantum dalam surat Al-Ikhlas.
"Katakanlah: "Dia-lah Alloh, Yang Maha Esa. Alloh adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (QS. Al-Ikhlas : 1-4)   
Para ulama menekankan bahwa Alloh adalah sebuah nama kepada Dzat yang pasti ada namanya. Semua nilai kebenaran mutlak hanya ada (dan bergantung) pada-Nya. Dengan demikian, Alloh Yang Memiliki Maha Tinggi. Tapi juga Alloh Yang Memiliki Maha Dekat. Alloh Memiliki Maha Kuasa dan juga Alloh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sifat-sifat Allah dijelaskan dengan istilah Asmaaul Husna, yaitu nama-nama, sebutan atau gelar yang baik.

Berikut adalah beberapa dalil yang terkandung di dalam Al-Qur'an  tentang asmaa'ul husna:

مَن يَہۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِى‌ۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ (١٧٨) وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ ڪَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ‌ۖ لَهُمۡ قُلُوبٌ۬ لَّا يَفۡقَهُونَ بِہَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٌ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ بِہَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٌ۬ لَّا يَسۡمَعُونَ بِہَآ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَٱلۡأَنۡعَـٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡغَـٰفِلُونَ (١٧٩) وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِہَا‌ۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِىٓ أَسۡمَـٰٓٮِٕهِۦ‌ۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (١٨٠)
 
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah , maka merekalah orang-orang yang merugi. (178)  

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami [ayat-ayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakannya untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah], dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakannya untuk mendengar [ayat-ayat Allah]. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (179) 

Hanya milik Allah asma-ul husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam [menyebut] nama-nama-Nya [3]. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (180)

 ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ
Dialah Allah, tidak ada Tuhan/Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asmaa'ul husna (nama-nama yang baik)." - (Q.S. Thaa-Haa : 8)

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَـٰنَ‌ۖ أَيًّ۬ا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ‌ۚ وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِہَا وَٱبۡتَغِ بَيۡنَ ذَٲلِكَ سَبِيل

Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa'ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" - (Q.S Al-Israa': 110

 Asma Al-Husna

No. Nama Arab Indonesia

Alloh الله Allah
1 Ar Rahman الرحمن Yang Maha Pengasih
2 Ar Rahiim الرحيم Yang Maha Penyayang
3 Al Malik الملك Yang Maha Merajai/Memerintah
4 Al Quddus القدوس Yang Maha Suci
5 As Salaam السلام Yang Maha Memberi Kesejahteraan
6 Al Mu`min المؤمن Yang Maha Memberi Keamanan
7 Al Muhaimin المهيمن Yang Maha Pemelihara
8 Al `Aziiz العزيز Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
9 Al Jabbar الجبار Yang Maha Perkasa
10 Al Mutakabbir المتكبر Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11 Al Khaliq الخالق Yang Maha Pencipta
12 Al Baari` البارئ Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13 Al Mushawwir المصور Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)
14 Al Ghaffaar الغفار Yang Maha Pengampun
15 Al Qahhaar القهار Yang Maha Memaksa
16 Al Wahhaab الوهاب Yang Maha Pemberi Karunia
17 Ar Razzaaq الرزاق Yang Maha Pemberi Rejeki
18 Al Fattaah الفتاح Yang Maha Pembuka Rahmat
19 Al `Aliim العليم Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20 Al Qaabidh القابض Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)
21 Al Baasith الباسط Yang Maha Melapangkan (makhluknya)
22 Al Khaafidh الخافض Yang Maha Merendahkan (makhluknya)
23 Ar Raafi` الرافع Yang Maha Meninggikan (makhluknya)
24 Al Mu`izz المعز Yang Maha Memuliakan (makhluknya)
25 Al Mudzil المذل Yang Maha Menghinakan (makhluknya)
26 Al Samii` السميع Yang Maha Mendengar
27 Al Bashiir البصير Yang Maha Melihat
28 Al Hakam الحكم Yang Maha Menetapkan
29 Al `Adl العدل Yang Maha Adil
30 Al Lathiif اللطيف Yang Maha Lembut
31 Al Khabiir الخبير Yang Maha Mengenal
32 Al Haliim الحليم Yang Maha Penyantun
33 Al `Azhiim العظيم Yang Maha Agung
34 Al Ghafuur الغفور Yang Maha Pengampun
35 As Syakuur الشكور Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36 Al `Aliy العلى Yang Maha Tinggi
37 Al Kabiir الكبير Yang Maha Besar
38 Al Hafizh الحفيظ Yang Maha Memelihara
39 Al Muqiit المقيت Yang Maha Pemberi Kecukupan
40 Al Hasiib الحسيب Yang Maha Membuat Perhitungan
41 Al Jaliil الجليل Yang Maha Mulia
42 Al Kariim الكريم Yang Maha Mulia
43 Ar Raqiib الرقيب Yang Maha Mengawasi
44 Al Mujiib المجيب Yang Maha Mengabulkan
45 Al Waasi` الواسع Yang Maha Luas
46 Al Hakiim الحكيم Yang Maha Maka Bijaksana
47 Al Waduud الودود Yang Maha Mengasihi
48 Al Majiid المجيد Yang Maha Mulia
49 Al Baa`its الباعث Yang Maha Membangkitkan
50 As Syahiid الشهيد Yang Maha Menyaksikan
51 Al Haqq الحق Yang Maha Benar
52 Al Wakiil الوكيل Yang Maha Memelihara
53 Al Qawiyyu القوى Yang Maha Kuat
54 Al Matiin المتين Yang Maha Kokoh
55 Al Waliyy الولى Yang Maha Melindungi
56 Al Hamiid الحميد Yang Maha Terpuji
57 Al Muhshii المحصى Yang Maha Mengkalkulasi
58 Al Mubdi` المبدئ Yang Maha Memulai
59 Al Mu`iid المعيد Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
60 Al Muhyii المحيى Yang Maha Menghidupkan
61 Al Mumiitu المميت Yang Maha Mematikan
62 Al Hayyu الحي Yang Maha Hidup
63 Al Qayyuum القيوم Yang Maha Mandiri
64 Al Waajid الواجد Yang Maha Penemu
65 Al Maajid الماجد Yang Maha Mulia
66 Al Wahiid الواحد Yang Maha Tunggal
67 Al Ahad الاحد Yang Maha Esa
68 As Shamad الصمد Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69 Al Qaadir القادر Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70 Al Muqtadir المقتدر Yang Maha Berkuasa
71 Al Muqaddim المقدم Yang Maha Mendahulukan
72 Al Mu`akkhir المؤخر Yang Maha Mengakhirkan
73 Al Awwal الأول Yang Maha Awal
74 Al Aakhir الأخر Yang Maha Akhir
75 Az Zhaahir الظاهر Yang Maha Nyata
76 Al Baathin الباطن Yang Maha Ghaib
77 Al Waali الوالي Yang Maha Memerintah
78 Al Muta`aalii المتعالي Yang Maha Tinggi
79 Al Barri البر Yang Maha Penderma
80 At Tawwaab التواب Yang Maha Penerima Tobat
81 Al Muntaqim المنتقم Yang Maha Pemberi Balasan
82 Al Afuww العفو Yang Maha Pemaaf
83 Ar Ra`uuf الرؤوف Yang Maha Pengasuh
84 Malikul Mulk مالك الملك Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85 Dzul Jalaali Wal Ikraam ذو الجلال و الإكرام Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86 Al Muqsith المقسط Yang Maha Pemberi Keadilan
87 Al Jamii` الجامع Yang Maha Mengumpulkan
88 Al Ghaniyy الغنى Yang Maha Kaya
89 Al Mughnii المغنى Yang Maha Pemberi Kekayaan
90 Al Maani المانع Yang Maha Mencegah
91 Ad Dhaar الضار Yang Maha Penimpa Kemudharatan
92 An Nafii` النافع Yang Maha Memberi Manfaat
93 An Nuur النور Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94 Al Haadii الهادئ Yang Maha Pemberi Petunjuk
95 Al Baadii البديع Yang Indah Tidak Mempunyai Banding
96 Al Baaqii الباقي Yang Maha Kekal
97 Al Waarits الوارث Yang Maha Pewaris
98 Ar Rasyiid الرشيد Yang Maha Pandai
99 As Shabuur الصبور Yang Maha Sabar
Betapa besar dan banyak khasiat dan fadilah yang terkandung dalam Asma Alloh,Ama'ul Husna.Ama'ul Husna ini dapat di amalkan untuk keperluan apa aja dengan cara pengamalan yang sungguh-sungguh,ikhlas penuh tawakal kepada Alloh serta berkeyakinan bahwa apa yang dilakukan hanya sebagai ikhtiar,sedang Alloh yang menentukan,


Di dalam Asmaul Husna, Alloh punya kehendak kepada mahluknya, Maka pertemukanlah kehendak anda dengan kehendak Alloh. dengannya, Kuasa Alloh akan mengubah segala - galanya, Anda akan meraih keajaiban dan kedahsyatan hidup manakala kehendak anda tepat dengan kehendak Alloh yang ada dalam Asmaul Husna.



Amaul Husna adalah samudera Alloh yang tidak bertepi, yang ke-dalamannya tidak terukur, yang kandungannya tidak terhingga. Segala macam aneka tambang dan kekayaan ada disana. Maka arungilah dan menyelamlah di dalam Asmaul Husna.



Alloh menyintai orang yang menenggelamkan diri dalam Asmaul Husna, Alloh menjadikan tangan-nya adalah tangan hambanya untuk memukul, pendengarannya adalah pendengaran hambanya untuk mendengar, kakinya adalah kaki hambanya untuk berjalan, Maka jadikan Asmaul Husna sebagai perjalanan ruhani  untuk bertemu Alloh dan menyatukan hati dengan-nya, Larutkan hati dengan berdzikirkan Asmaul Husna.



Rosululloh Saw bersabda:

" Siapa yang larut dengan Asmaul Husna, dia akan masuk surga "



Surga ada didunia sekrang ini, karena siapa yang tidak memasuki surga dunia dia tidak akan masuk surga akherat.

Sekilas penjelasan atau Pengertian Amanah Dalam Islam

Amanah adalah segala sesuatu yang dibebankan Allah kepada manusia untuk dilaksanakan (Q.S. 32 : 72) yang tercakup di dalamnya khilafah ilahiyah (khalifat allah, ibad allah), khilafah takwiniah (al-taklif al-syar'iah) dalam kaitannya dengan hablun min allah dan hablun min al-nas.

Dalam ajaran Al-Qur'an manusia adalah makhluk yang memikul beban (mukallaf). Pembebanan (taklif) meliputi hak dan kewajiban. Setiap beban yang diterima manusia harus dilaksanakan sebagai amanah.
Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman, sehingga mu'min berarti yang beriman, yang mendatangkan keamanan, juga yang memberi dan menerima amanah. Orang yang beriman disebut juga al-mu'min, karena orang yang beriman menerima rasa aman, iman dan amanah. Bila orang tidak menjalankan amanah berarti tidak beriman dan tidak akan memberikan rasa aman baik untuk dirinya dan sesama masyarakat lingkungan sosialnya. Dalam sebuah hadis dinyatakan "Tidak ada iman bagi orang yang tidak berlaku amanah".

Dalam kontek hablun min allah, amanah yang dibebankan Allah kepada manusia adalah Tauhid artinya pengakuan bahwa hanya Allah yang harus disembah, hanya Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan hanya Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup manusia, sehingga pelanggaran terhadap tauhid adalah syirik dan orang musyrik adalah orang khianat kepada Allah. Termasuk dalam kontek ini pula adalah mengimani seluruh aspek yang termuat dalam rukun iman dan melaksanakan ubudiyah yang termaktub dalam rukun islam.

Manusia diperintah Allah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya (Q.S. 4 : 58), hal ini berkaitan dengan tatanan berinteraksi sosial (muamalah) atau hablun min al-nas. Sifat dan sikap amanah harus menjadi kepribadian atau sikap mental setiap individu dalam komunitas masyarakat agar tercipta harmonisasi hubungan dalam setiap gerak langkah kehidupan. Dengan memiliki sikap mental yang amanah akan terjalin sikap saling percaya, positif thinking, jujur dan transparan dalam seluruh aktifitas kehidupan yang pada akhirnya akan terbentuk model masyarakat yang ideal yaitu masyarakat aman, damai dan sejahtera.

Pengertian Amanah
Amanah secara etimologis (pendekatan kebahasaan/lughawi) dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari (amina- amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia amanah berarti pesan, perintah, keterangan atau wejangan 1.
Amanah menurut pengertian terminologi (istilah) terdapat beberapa pendapat, diantaranya menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Amanah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.

Sedangkan menurut Ibn Al-Araby, amanah adalah segala sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya atau sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya untuk diambil manfaatnya3.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa amanah adalah  menyampaikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang lain, baik berupa harga maupun jasa.

Amanah merupakan hak bagi mukallaf yang berkaitan dengan hak orang lain untuk menunaikannya karena menyampaikan amanah kepada orang yang berhak memilikinya adalah suatu kewajiban.
Ahmad Musthafa Al-Maraghi membagi amanah kepada 3 macam, yaitu :
  1. Amanah manusia terhadap Tuhan, yaitu semua ketentuan Tuhan yang harus dipelihara berupa melaksankan semua perintah Tuhan dan meninggalkan semua laranganNya. Termasuk di dalamnya menggunakan semua potensi dan anggota tubuh untuk hal-hal yang bermanfaat serta mengakui bahwa semua itu berasal dari Tuhan. Sesungguhnya seluruh maksiat adalah perbuatan khianat kepada Allah Azza wa Jalla.
  2. Amanah manusia kepada orang lain, diantaranya mengembalikan titipan kepada yang mempunyainya, tidak menipu dan berlaku curang, menjaga rahasia dan semisalnya yang merupakan kewajiban terhadap keluarga, kerabat dan manusia secara keseluruhan. Termasuk pada jenis amanah ini adalah pemimpin berlaku adil terhadap masyarakatnya, ulama berlaku adil terhadap orang-orang awam dengan memberi petunjuk kepada mereka untuk memiliki i'tikad yang benar, memberi motivasi untuk beramal yang memberi manfaat kepada mereka di dunia dan akhirat, memberikan pendidikan yang baik, menyuruh berusaha yang halal serta memberikan nasihat-nasihat yang dapat memperkokoh keimanan agar terhindar dari segala kejelekan dan dosa serta mencintai kebenaran dan kebaikan. Amanah dalam katagori ini juga adalah seorang suami berlaku adil terhadap istrinya berupa salah satu pihak pasangan suami-istri tidak menyebarkan rahasia pasangannya, terutama rahasia yang bersifat khusus yaitu hubungan suami istri.
  3. Amanah manusia terhadap dirinya sendiri, yaitu berbuat sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya baik dalam urusan agama maupun dunia, tidak pernah melakukan yang membahayakan dirinya di dunia dan akhirat.
Dengan memperhatikan pendapat Ahmad Musthafa Al-Maraghi tersebut, amanah melekat pada diri setiap manusia sebagai mukallaf dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah, individu dan makhluk sosial.

Disamping 3 macam amanah tersebut di atas, terdapat satu macam amanah lagi yakni Amanah terhadap lingkungan. Amanah terhadap lingkungan hidup berupa memakmurkan dan melestarikan lingkungan (Q.S. 11 : 61), tidak berbuat kerusakan di muka bumi (Q.S.7 :85). Eksploitasi terhadap kekayaan alam secara berlebihan tanpa memperhatikan dampak negatifnya yang berakibat rusaknya ekosistem, ilegal loging, ilegal maning dan pemburuan binatang secara liar merupakan sikap tidak amanah terhadap lingkungan yang berakibat terjadinya berbagai bentuk bencana alam seperti gempa bumi, longsor dan banjir serta bencana lainnya yang mempunyai dampak rusak bahkan musnahnya tatanan sosial kehidupan manusia. 

Amanah dalam Muamalah
Muamalah adalah ajaran Islam yang menyangkut aturan-aturan dalam menata hubungan antar sesama manusia agar tercipta keadilan dan kedamaian dalam kebersamaan hidup manusia.
Aspek muamalah merupakan bagian prinsipal dalam Islam karena dengannyalah kehidupan bersama manusia ditata agar tidak terjadi persengketaan dalam kontak sosial antara satu pihak dengan pihak lainnya dalam masyarakat. Dengan demikian muamalah menjadi sangat penting. Dalam sebuah hadis dinyatakan "Agama itu adalah muamalah".

Manusia menurut ajaran Islam adalah khalifah di muka bumi, bertugas menata kehidupan sebaik mungkin sehingga tercipta kedamaian dalam hidup di tengah manusia yang dinamis. Kehidupan damai tidak serta merta, akan tetapi diciptakan dan dirancang. Oleh karena itu perlu diciptakan perangkat-perangkat dan aparat-aparat untuk menciptakan perdamaian tersebut.

Amanah (trust) adalah modal utama untuk terciptanya kondisi damai dan stabilitas di tengah masyarakat, karena amanah sebagai landasan moral dan etika dalam bermuamalah dan berinteraksi sosial. Firman Allah dalam Q.S. 4 : 58 sebagai berikut :

Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Dalam kitab-kitab sejarah perjuangan Rasulullah, amanah merupakan salah satu diantara beberapa sifat yang wajib dimiliki para Rasul. Mereka bersifat jujur dan dapat dipercaya, terutama dalam urusan yang berkaitan dengan tugas kerasulan, seperti menerima wahyu, memelihara keutuhannya dan menyampaikannya kepada manusia, tanpa penambahan, pengurangan atau penukaran sedikitpun. Mereka juga bersifat amanah dalam arti terpelihara dari hal-hal yang dilarang oleh Allah baik lahir maupun batin.

Menepati amanah  merupakan moral yang mulia, Allah swt. menggambarkannya sebagai orang mukmin yang beruntung (Q.S.23:8), sebaliknya Allah tidak suka orang-orang yang berkhianat dan tidak merestui tipu dayanya (Q.S.12:52), dan orang yang mengkhianati amanah termasuk salah satu sifat orang munafik (hifokrit).
Dalam fiqh Islam, amanah berarti kepercayaan yang diberikan kepada seseorang berkaitan dengan pemeliharaan harta benda, seperti al-wadi'ah dan ariyah.

Al-wadi'ah adalah harta benda yang dititipkan oleh seseorang kepada orang lain untuk dipelihara sebaik-baiknya. Sedangkan Ariyah adalah izin yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk memanfaatkan harta benda yang dimilikinya dengan tidak meminta imbalan apapun .
Penerima barang titipan ini, baik dalam bentuk wadi'ah maupun ariyah diberi amanah oleh pemiliknya untuk merawat dan memelihara keutuhan dan keselamatan barang titipan itu dengan sebaik-baiknya.
Apabila sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya (Q.S.2 : 283).

Namun demikian jika barang yang diamanatkan itu rusak atau hilang, penerima amanah itu tidak berkewajiban untuk mengganti atau memperbaikinya, kecuali atas kelalaian penerima amanah tersebut.
Dalam hukum muamalah termasuk katagori amanah adalah wadi'ah, luqatah, rahn, ijarah dan ariyah 9.
Dalam melaksanakan amanah dari lima macam amanah tersebut di atas, terdapat perbedaan satu dengan yang lainnya, yaitu :
  1. Wadiah, barang titipan disampaikan kepada pemiliknya apabila pemiliknya meminta barang titipan tersebut.
  2. Luqathah, barang temuan (luqatah) diumumkan selama satu tahun di tempat yang sekiranya dapat diketahui oleh masyarakat umum dengan harapan orang yang memiliki barang yang ditemukan tersebut mengetahuinya. Apabila setelah diumumkan dalam jangka satu tahun tidak ada yang  memilikinya, maka barang tersebut boleh digunakan. Dan apabila setelah digunakan ternyata pemiliknya ada, maka harus membayar/mengganti dengan barang sejenisnya atau harganya.
  3. Rahn (gadai/jaminan), barang yang menjadi jaminan atas hutang diberikan kepada pemiliknya apabila pemilik barang (rahn) tersebut telah melunasi hutangnya.
  4. Ijarah dan ariyah, apabila telah selesai pekerjaan dan penggunaan barang, maka barang tersebut wajib dikembalikan kepada pemiliknya sebelum diminta oleh pemiliknya 10.
Dalam perdagangan dikenal istilah menjual dengan amanah, seperti menjual "murabahah" . Maksudnya penjual menjelaskan ciri-ciri, kwalitas dan harga barang dagangan kepada pembeli tanpa melebih-lebihkannnya.

Amanah merupakan unsur yang amat vital dan sangat urgen keberadaanya dalam kelangsungan roda perekonomian, karena bencana terbesar di dalam pasar dewasa ini adalah meluasnya tindakan manipulasi, dusta, batil, khianat, bahkan menzalimi orang dengan perdagangan yang dilakukan, misalnya berbohong dalam mempromosikan barang (taghrir), mudah bersumpah, menimbun stok barang demi keuntungan pribadi, mengadakan persekongkolan jahat untuk memperdaya konsumen (tamajil), menyembunyikan kerusakan barang (tadlis) dan sebagainya. Pada hakikatnya perdagangan yang demikian disibukkan oleh laba kecil dari pada laba besar, terpaku kepada keberuntungan yang fana dari pada keberuntungan yang kekal.

Inilah yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. ketika beliau ke luar rumah dan melihat komunitas manusia sedang bertransaksi jual beli. Beliau berseru, wahai para pedagang! Pandangan para pedagang langsung terarah kepada beliau, Nabipun melanjutkan perkataannya, sesungguhnya para pedagang dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan durhaka, kecuali mereka yang bertaqwa kepada Allah, berbuat baik dan benar (HR. Tirmizi). Dalam hadis lain beliau bersabda : Sesungguhnya para pedagang adalah pendurhaka. Mereka berkata : Ya Rasulallah, bukankah jual beli dihalalkan? Nabi menjawab: Benar, tetapi mereka terlalu mudah bersumpah sehingga mereka berdosa dan terlalu banyak berbicara sehingga mereka mudah berbohong .(HR. Ahmad).

Amanah bertambah penting pada saat seseorang membentuk serikat dagang, melakukan bagi hasil (mudharabah) atau wakalah (menitipkan barang barang untuk menjalankan proyek yang disepakati bersama). Dalam hal ini, pihak yang lain percaya dan memegang janji demi kemaslahatan bersama, jika salah satu pihak menjalankannya hanya demi kemalahatan atau keuntungan pihaknya tanpa memikirkan kemaslahatan atau keuntungan pihak lain, maka ia telah berkhianat. Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman : Aku adalah yang ketiga dari dua orang yang berserikat, selama salah satu dari keduanya tidak menghianati temannya, apabila salah satu dari keduanya berkhianat, Aku keluar dari mereka. (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Amanah merupakan faktor utama terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, sebab dengan sikap amanah semua komponen bangsa akan berlaku jujur, tanggung jawab dan disiplin dalam setiap aktifitas kehidupan. Mewabahnya korupsi, monopoli dan oligapoli dalam berbagai lapangan kerja dan sektor ekonomi baik ekonomi mikro maupun ekonomi makro, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta, hilangnya saling percaya, tumbuhnya saling mencurigai (negative thinking), menjamurnya mental hipokrit, apriori terhadap tugas dan kewajiban dan sifat-sifat tercela lainnya sebagai akibat dari hilangnya amanah.

 Penutup
Dari uraian di atas dapat diambil suatu intisari bahwa amanah adalah perintah Allah yang melekat pada diri manusia sebagai mukallaf yang wajib dilaksanakan dalam sendi-sendi kehidupan baik yang ada relevansinya sebagai hamba Allah (hak ilahi, hubungan vertikal), maupun sebagai makhluk sosial (hak adami, hubungan horizontal). Amanah merupakan salah satu sifat wajib bagi para rasul Allah dalam mengemban tugas sebagai penyampai risalah ilahiyah. Manusia sebagai pengikut para Rasul Allah tersebut wajib menjadikan Rasul Allah sebagai suri tauladan dalam setiap gerak langkah kehidupan termasuk di dalamnya memiliki sifat amanah.

Amanah merupakan landasan etika dan moral dalam bermuamalah termasuk di dalamnya pada saat menjalankan roda perekonomian dewasa ini. Dengan amanah akan tercipta kondisi masyarakat yang jujur, dapat dipercaya, transparan dan berlaku adil dalam setiap transaksi dan kerjasa sama, sehingga tercipta lingkungan kerja yang kondusip, membawa keberkahan kepada pihak-pihak yang terkait dan menimbulkan kemaslahatan bagi umat manusia secara keseluruhan. Kebalikan dari amanah adalah khianat, inilah sumber malapetaka yang signipikan dalam menyumbang kehancuran umat dewasa ini, mewabahnya manipulasi, persekongkolan tidak sehat, berlaku curang, dekadensi moral, berlaku zalim, monopoli kekayaan dan jenis-jenis maksiat lain. Karena sesungguhnya seluruh perbuatan maksiat adalah khianat.

Blog adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan

Blog merupakan singkatan dari web log adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urut terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna Internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.

Sejarah

Media blog pertama kali dipopulerkan oleh Blogger.com, yang dimiliki oleh PyraLab sebelum akhirnya PyraLab diakuisi oleh Google.Com pada akhir tahun 2002 yang lalu. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat sumber terbuka yang diperuntukkan kepada perkembangan para penulis blog tersebut.

Blog mempunyai fungsi yang sangat beragam,dari sebuah catatan harian, media publikasi dalam sebuah kampanye politik, sampai dengan program-program media dan perusahaan-perusahaan. Sebagian blog dipelihara oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa penulis, . Banyak juga weblog yang memiliki fasilitas interaksi dengan para pengunjungnya, seperti menggunakan buku tamu dan kolom komentar yang dapat memperkenankan para pengunjungnya untuk meninggalkan komentar atas isi dari tulisan yang dipublikasikan, namun demikian ada juga yang yang sebaliknya atau yang bersifat non-interaktif.

Situs-situs web yang saling berkaitan berkat weblog, atau secara total merupakan kumpulan weblog sering disebut sebagai blogosphere. Bilamana sebuah kumpulan gelombang aktivitas, informasi dan opini yang sangat besar berulang kali muncul untuk beberapa subyek atau sangat kontroversial terjadi dalam blogosphere, maka hal itu sering disebut sebagai blogstorm atau badai blog.

Komunitas Blogger

Komunitas blogger adalah sebuah ikatan yang terbentuk dari [para blogger] berdasarkan kesamaan-kesamaan tertentu, seperti kesamaan asal daerah, kesamaan kampus, kesamaan hobi, dan sebagainya. Para blogger yang tergabung dalam komunitas-komunitas blogger tersebut biasanya sering mengadakan kegiatan-kegiatan bersama-sama seperti kopi darat.

Untuk bisa bergabung di komunitas blogger, biasanya ada semacam syarat atau aturan yang harus dipenuhi untuk bisa masuk di komunitas tersebut, misalkan berasal dari daerah tertentu.

Budaya populer

Ngeblog (istilah bahasa Indonesia untuk blogging) harus dilakukan hampir setiap waktu untuk mengetahui eksistensi dari pemilik blog. Juga untuk mengetahui sejauh mana blog dirawat (mengganti template) atau menambah artikel. Sekarang ada lebih 10 juta blog yang bisa ditemukan di internet, dan masih bisa berkembang lagi, karena saat ini ada banyak sekali perangkat lunak, peralatan, dan aplikasi internet lain yang mempermudah para blogger (sebutan pemilik blog) untuk merawat blognya. Selain merawat dan terus melakukan pembaharuan di blognya, para blogger yang tergolong baru pun masih sering melakukan blogwalking, yaitu aktivitas para blogger meninggalkan tautan di blog atau situs orang lain seraya memberikan komentar.

Beberapa blogger kini bahkan telah menjadikan blognya sebagai sumber pemasukan utama melalui program periklanan (misalnya AdSense, posting berbayar, penjualan tautan, atau afiliasi). Sehingga kemudian muncullah istilah blogger profesional, atau problogger, yaitu orang yang menggantungkan hidupnya hanya dari aktivitas ngeblog[rujukan?], karena banyak saluran pendapatan dana, baik berupa dolar maupun rupiah, dari aktivitas ngeblog ini.

Risiko kejahatan

Karena blog sering digunakan untuk menulis aktivitas sehari-hari yang terjadi pada penulisnya, ataupun merefleksikan pandangan-pandangan penulisnya tentang berbagai macam topik yang terjadi dan untuk berbagi informasi - blog menjadi sumber informasi bagi para hacker, pencuri identitas, mata-mata, dan lain sebagainya. Banyak berkas-berkas rahasia dan penulisan isu sensitif ditemukan dalam blog-blog. Hal ini berakibat dipecatnya seseorang dari pekerjaannya, diblokir aksesnya, didenda, dan bahkan ditangkap.

Peran Facebook pada proses politik Amerika Serikat

Minggu, 01 Januari 2012

Peran Facebook pada proses politik Amerika Serikat muncul pada Januari 2008 sesaat sebelum Pendahuluan New Hampshire, ketika Facebook bersama ABC dan Saint Anselm College bekerjasama untuk mengizinkan pengguna memberi umpan balik langsung mengenai debat antara Partai Repbulik dan Demokrat tanggal 5 Januari.Charles Gibson menjadi moderator debat yang diadakan di Dana Center for the Humanities di Saint Anselm College. Pengguna Facebook turut berpartisipasi dalam grup debat yang diatur berdasarkan topik tertentu, mendaftar untuk memilih, dan mengirim pertanyaan.

Lebih dari 1.000.000 orang menginstal aplikasi 'US politics' di Facebook agar dapat berpartisipasi, dan aplikasi ini mengukur respon pengguna terhadap komentar tertentu yang dilontarkan oleh kandidat debat.Debat ini menunjukkan kepada komunitas masyarakat tentang apa yang telah dialami remaja saat ini: Facebook adalah cara baru yang sangat populer dan kuat untuk berinteraksi dan menyuarakan pendapat. Artikel yang ditulis Michelle Sullivan di Uwire.com mengilustrasikan bagaimana "efek facebook" telah memengaruhi tingkat suara remaja, mendukung kandidat politik muda, dan keterlibatan umum populasi remaja pada pemilu 2008.

Pada Februari 2008, sebuah grup Facebook bernama "One Million Voices Against FARC" mengadakan acara yang dihadiri ratusan ribu penduduk Kolombia yang memrotes Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia, dikenal sebagai FARC (dari kepanjangannya yang berbahasa Spanyol).[145] Bulan Agustus 2010, salah satu situs pemerintah resmi Korea Utara, Uriminzokkiri, bergabung dengan Facebook.

Tahun 2010, seorang direktur kesehatan masyarakat Inggris yang memimpin staf untuk meneliti sifilis, mempertautkan dan menyalahkan kenaikan kasus sipilis di sejumlah wilayah Britania kepada Facebook. Laporan penelitian ini dikecam oleh Facebook karena "mengabaikan perbedaan antara korelasi dan kausalitas.

Turunnya harga komoditi secara umum pada minggu ini

IdNusantara:Turunnya harga komoditi secara umum pada minggu ini memberikan tekanan terhadap mata uang Dollar Komoditi. Kurs Dollar Aussie pada perdagangan di pasar spot minggu ini terpantau turun tajam -225 pips atau turun sekitar - 2.21% dari harga pembukaan.

Sedangkan Dollar Kiwi pada perdagangan minggu ini bergerak turun -129 pips, atau sekitar -1.67% dari harga pembukaan. Demikian juga Dollar Kanada terpantau mengalami penurunan tajam sekitar - 197 pips, atau sekitar - 1.94% dari harga pembukaan pada perdagangan di pasar spot hari ini. Pergerakan pair tersebut pada saat menunjukkan adanya pelemahan -199.3 pips dari kisaran terkuat minggu ini.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting mengemukakan bahwa perkembangan tersebut didesak oleh amblasnya harga komoditi, dimana indeks umum harga komoditi RJ/CRB pada minggu ini turun tajam - 2.89%. Sementara itu indeks umum komoditi CCI juga amblas sekitar- 2.90% dan berada dalam posisi terendah dalam 14 bulan terakhir. (http://www.vibiznews.com/ARI)

Indonesian killings of 1965–1966

Minggu, 11 Desember 2011

The Indonesian killings of 1965–1966 were an anti-communist purge following a failed coup in Indonesia. The most widely accepted estimates are that over half a million people were killed. The purge was a pivotal event in the transition to the "New Order"; the Indonesian Communist Party (PKI) was eliminated as a political force, and the upheavals led to the downfall of president Sukarno, and to the commencement of Suharto's thirty-year presidency.

The failed coup released pent-up communal hatreds which were fanned by the army, who quickly blamed the PKI. Communists were purged from political, social, and military life, and the PKI itself was banned. The massacres began in October 1965 in the weeks following the coup attempt, and reached their peak over the remainder of the year before subsiding in the early months of 1966. They started in the capital Jakarta, spread to Central and East Java, and later Bali. Thousands of local vigilantes and army units killed actual and alleged PKI members. Although killings occurred across Indonesia, the worst were in the PKI strongholds of Central Java, East Java, Bali, and northern Sumatra. It is possible that over one million people were imprisoned at one time or another.

Sukarno's balancing act of "Nasakom" (nationalism, religion, communism) had been unraveled. His most significant pillar of support, the PKI, had been effectively eliminated by the other two pillars—the army and political Islam; and the army was on the way to unchallenged power. In March 1967 Sukarno was stripped of his remaining power by Indonesia's provisional Parliament, and Suharto was named Acting President. In March 1968 Suharto was formally elected president.

The killings are skipped over in most Indonesian history books, and have received little introspection by Indonesians and comparatively little international attention. Satisfactory explanations for the scale and frenzy of the violence have challenged scholars from all ideological perspectives. The possibility of a return to similar upheavals is cited as a factor in the "New Order" administration's political conservatism and tight control of the political system. Vigilance against a perceived communist threat remained a hallmark of Suharto's thirty-year presidency. In the West, the killings and purges were portrayed as a victory over communism at the height of the Cold War.

Background

Support for Sukarno's presidency under his "Guided Democracy" depended on his forced and unstable "Nasakom" coalition between the military, religious groups, and Communists. The rise in influence and increasing militancy of the Indonesian Communist Party (PKI) and Sukarno's support for it, was a serious concern for Muslims and the military, and tension grew steadily in the early and mid 1960s. The third largest Communist party in the world,[2] the PKI had approximately 300,000 cadres and a full membership of around two million. The party's assertive efforts to speed up land reform provoked existing landowners and threatened the social position of Islamic clerics.

On the evening of 30 September and 1 October 1965, six generals were killed by a group calling themselves the 30 September Movement. With many of Indonesia's top military leaders either dead or missing, Suharto, one of the most senior surviving generals, assumed control of the army the following morning. By 2 October he was firmly in control of the capital and announced that a coup attempt had failed. The military blamed the coup attempt on their arch enemies the PKI. On 5 October, the day of the dead generals' funeral procession, a military propaganda campaign began to sweep the country, successfully convincing both Indonesian and international audiences that it was a Communist coup, and that the murders were cowardly atrocities committed against Indonesian heroes. The PKI's denials of involvement had little effect.[6] Pent-up tensions and hatreds that had built up over years were released.

Political purge

The army removed top civilian and military leaders it thought sympathetic to the PKI. The parliament and cabinet were purged of Sukarno loyalists. Leading PKI members were immediately arrested, some summarily executed. Army leaders organised demonstrations in Jakarta. during which on 8 October, the PKI Jakarta headquarters was burned down. Anti-Communist youth groups were formed, including the army-backed Indonesian Student's Action Front (KAMI), the Indonesian Youth and Students' Action Front (KAPPI), and the Indonesian Graduates Action Front (KASI). In Jakarta and West Java, over 10,000 PKI activists and leaders were arrested, including famed novelist Pramoedya.

Killings

The killings started in October 1965 in Jakarta, spread to Central and East Java and later to Bali, and smaller outbreaks occurred in parts of other islands,notably Sumatra. As the Sukarno presidency began to unravel and Suharto began to assert control following the coup attempt, the PKI's upper national leadership was hunted and arrested with some summarily executed. The Air Force in particular was a target of the purge. In early October, PKI chairman Dipa Nusantara Aidit had flown to Central Java, where the coup attempt had been supported by leftist officers in Yogyakarta, Salatiga, and Semarang. Fellow senior PKI leader, Njoto, was shot around 6 November, Aidit on 22 November, and First Deputy PKI Chairman M.H. Lukman was killed shortly thereafter.

The communal tensions and hatreds that had built up were played upon by the Army leadership who demonised Communists, and many Indonesian civilians took part in the killings. The worst massacres were in Central and East Java. where PKI support was at its strongest. Large numbers of victims were also reported in northern Sumatra and Bali. The situation varied across the country and the role of the Army has never been fully explained. In some areas the Army organised, encouraged, trained, and supplied civilian groups and local militias. In other areas, communal vigilante action preceded the Army, although in most cases killings did not commence before military units had sanctioned violence by instruction or example. In some areas, civilian militia knew where to find known Communists and their sympathisers, while in others the Army demanded lists of Communists from village heads. PKI membership was not disguised and most suspects were easily identified within communities. The American Embassy in Jakarta supplied the Indonesian military with lists of up to 5,000 suspected Communists.

Although some PKI branches organised resistance and reprisal killings, most went passively to their deaths. Not all victims were PKI members. Often the label "PKI" was used to include anyone to the left of the Indonesian National Party (PNI). In other cases victims were suspected or simply alleged Communists.

Local Chinese were killed in some areas, and their properties looted and burned as a result of anti-Chinese racism on the excuse that Aidit had brought the PKI closer to China. In the predominantly Christian islands of Nusa Tenggara, Christian clergy and teachers suffered at the hands of Muslim youth. In West Kalimantan, approximately eighteen months after the worst of the killings in Java, indigenous Dayaks expelled 45,000 ethnic Chinese from rural areas, with hundreds or thousands killed.

Methods of killing included shooting and beheading with Japanese-style samurai swords. Corpses were often thrown into rivers, and at one point officials complained to the Army that the rivers running into the city of Surabaya were clogged with bodies. In areas such as Kediri in East Java, Nahdlatul Ulama youth wing (Ansor) members lined up Communists, cut their throats and disposed of the bodies in rivers. The killings left whole sections of villages empty, and the houses of victims or the interned were looted and often handed over to the military.

Although there were occasional and isolated flare ups until 1969, the killings largely subsided by March 1966, when either there were no more suspects, or authorities intervened. Solo residents said that exceptionally high flooding in March 1966 of the Solo River, considered mystical by the Javanese, signaled the end of the killings.

Java Indonesia

In Java, much of the killing was along aliran (cultural stream) loyalties; the Army encouraged santri (more devout and orthodox Muslims) among the Javanese to seek out PKI members among the abangan (less orthodox) Javanese. The killings extended to more than PKI members. In Java, for example, many considered "left PNI" were killed. Others were just suspects.or were the victims of grievance settling with little or no political motive. In mid-October, Suharto sent para-commando troops he trusted as loyal into Central Java, a region with strong Communist allegiances, while troops of uncertain loyalty were ordered out. Anti-Communist killings were then instigated with youths, assisted by the Army, hunting down Communists.

Conflict that had broken out in 1963 between the Muslim party Nahdlatul Ulama (NU) and the PKI turned to killing in the second week of October. The Muslim group Muhammadiyah proclaimed in early November 1965 that the extermination of "Gestapu/PKI" constituted Holy War ("Gestapu" being the military's name for the "30 September Movement"), a position that was supported by other Islamic groups in Java and Sumatra. For many youths, killing Communists became a religious duty. Where there had been Communist centres in Central and East Java, Muslim groups portraying themselves as victims of Communist aggression justified the killings by evoking the Madiun Affair of 1948. Roman Catholic students in the Yogyakarta region left their hostels at night to join in the execution of truckloads of arrested Communists.

Although, for most of the country, the killings subsided in the first months of 1966, in parts of East Java the killings went on for years. In Blitar, guerrilla action was maintained by surviving PKI members until they were defeated in 1967 and 1968. The mystic Mbah Suro, and devotees of his Communist-infused traditional mysticism, built an army, but Suro and eighty of his followers were killed in a war of resistance against the Indonesian Army.

Bali Indonesia

Mirroring the widening of social divisions across Indonesia in the 1950s and early 1960s, the island of Bali saw conflict between supporters of the traditional Balinese caste system, and those rejecting these traditional values. Government jobs, funds, business advantage and other spoils of office had gone to Communists during the final years of Sukarno's presidency. Disputes over land and tenants' rights led to land seizures and killings, when the PKI promoted "unilateral action". As Suharto was gaining the upper hand in Java, Sukarno's choice of governor was pushed from office in Bali. Communists were publicly accused of working towards the destruction of the island's culture, religion, and character, and the Balinese, like the Javanese, were urged to destroy the PKI.

As Indonesia's only Hindu-dominated island, Bali did not have the Islamic forces involved in Java, and upper-caste PNI landlords instigated the elimination of PKI members. High Hindu priests called for sacrifices to satisfy spirits angered by past sacrilege and social disruption. Balinese Hindu leader, Ida Bagus Oka, told Hindus: "There can be no doubt [that] the enemies of our revolution are also the cruelest enemies of religion, and must be eliminated and destroyed down to the roots.

Like parts of East Java, Bali experienced a state of near civil war as Communists regrouped. The balance of power was shifted in favour of anti-Communists in December 1965, when the Army Para-commando Regiment and Brawijaya units arrived in Bali after having carried out killings in Java. Javanese military commanders permitted Balinese squads to kill until reined in. In contrast to Central Java where the Army encouraged people to kill the "Gestapu", on Bali eagerness to kill was so great and spontaneous that, having initially provided logistic support, the Army eventually had to step in to prevent anarchy. A series of killings similar to those in Central and East Java were led by black-shirted PNI youth. For several months, militia death squads went through villages capturing suspects and taking them away. Between December 1965 and early 1966, an estimated 80,000 Balinese were killed, roughly 5 percent of the island's population at the time, and proportionally more than anywhere else in Indonesia.

Sumatra Indonesia

PKI-organised squatters' movements and campaigns against foreign businesses in Sumatra's plantations provoked quick reprisals against Communists, following the Jakarta coup attempt. In Aceh as many as 40,000 were killed, part of the possibly 200,000 deaths across Sumatra. The regional revolts of the late 1950s complicated events in Sumatra as many former rebels were forced to affiliate themselves with Communist organizations to prove their loyalty to the Indonesian Republic. The quelling of the 1950s revolts and 1965 killings were seen by most Sumatrans as a "Javanese occupation".In Lampung, another factor in the killings seems to have been Javanese immigration.

Deaths and imprisonment

Although the general outline of events is known, much is unknown about the killings, and an accurate and verified count of the dead is unlikely to be ever known. There were few Western journalists or academics in Indonesia at the time, the military was one of the few sources of information, travel was difficult and dangerous, and the regime that approved and oversaw the killings remained in power for three decades. The Indonesian media at the time had been undermined by restrictions under "Guided Democracy" and by the "New Order's" take over in October 1966.[36] With the killings occurring at the height of Western fears over the Cold War, there was little investigation internationally, which would have risked complicating the West's preference for Suharto and the "New Order" over the PKI and the "Old Order".

In the first 20 years following the killings, thirty-nine serious estimates of the death toll were attempted. Before the killings had finished, the army estimated 78,500 had died. while another early estimate by the traumatised Communists put the figure at 2 million. The army later estimated the number killed at a possibly exaggerated 1 million. In 1966, Benedict Anderson estimated the deaths at 200,000 and by 1985 had offered a range of 500,000 to 1 million. Most scholars agree that at least half a million were killed. more than any other event in Indonesian history. An armed forces security command estimate from December 1976 put the number at between 450,000 and 500,000.

Arrests and imprisonment continued for ten years after the purge. A 1977 Amnesty International report suggested "about one million" PKI cadres and others identified or suspected of party involvement were detained. Between 1981 and 1990, the Indonesian Government estimated that there were between 1.6 and 1.8 million former prisoners "at large" in society. It is possible that in the mid 1970s, 100,000 were still imprisoned without trial. It is thought that as many as 1.5 million were imprisoned at one stage or another. Those PKI members not killed or imprisoned went into hiding while others tried to hide their past. Those arrested included leading politicians, artists and writers such as Pramoedya, and peasants and soldiers. Many did not survive this first period of detention, dying from malnutrition and beatings. As people revealed the names of underground Communists, often under torture, the numbers imprisoned rose from 1966–68. Those released were often placed under house arrest, had to regularly report to the military, or were banned from Government employment, as were their children.

Many suspected communists were shot, as well as beheaded, strangled, or had their throats slit by the military and Islamic groups. The killings were "done face to face", unlike mechanical processes of mass killing in Khmer Rouge Cambodia or Nazi Germany.

Impact

Sukarno's balancing act of "Nasakom" (nationalism, religion, communism) had been unraveled. His most significant pillar of support, the PKI, had been effectively eliminated by the other two pillars—the army and political Islam; and the army was on the way to unchallenged power. Many Muslims were no longer trusting of Sukarno, and by early 1966, Suharto began to openly defy Sukarno, a policy which had previously been avoided by army leaders. Sukarno attempted to cling to power and mitigate the new found influence of the army, although he could not bring himself to blame the PKI for the coup as demanded by Suharto. On 1 February 1966, Sukarno promoted Suharto to the rank of Lieutenant General. The Supersemar decree of 11 March 1966 transferred much of Sukarno's power over the parliament and army to Suharto,[48] ostensibly allowing Suharto to do whatever was needed to restore order. On 12 March 1967 Sukarno was stripped of his remaining power by Indonesia's provisional Parliament, and Suharto named Acting President.[49] On 21 March 1968, the Provisional Peoples Representative Assembly formally elected Suharto as president.

The killings are skipped over in most Indonesian histories, and have received little introspection by Indonesians and comparatively little international attention. However, following Suharto's forced resignation in 1998, and his death in 2008, some level of openness about what had really happened has emerged in public discourse in subsequent years. A hesitant search for mass graves by survivors and family members began after 1998, although little has been found. Over three decades later, great enmity remains in Indonesian society over the events. The film The Year of Living Dangerously, based on events leading up to the killings, was banned in Indonesia until 1999.

Satisfactory explanations for the scale and frenzy of the violence have challenged scholars from all ideological perspectives. One view attributes the communal hatreds behind the killings to the forcing of parliamentary democracy onto Indonesian society, claiming that such changes were culturally unsuitable and unnecessarily disruptive in the post-independence 1950s. A contrasting view is that when Sukarno and the military replaced the democratic process with authoritarianism, competing interests—i.e., the army, political Islam, and Communism—could not be openly debated, rather they were suppressed and could only be expressed through violence. Conflict resolution methods have broken down, and Muslim groups and the military adopted an "us or them attitude", and that when the killings were over, many Indonesians dismissed as something the Communists had deserved. The possibility of a return to similar upheavals is cited as a factor in the "New Order" administration's political conservatism and tight control of the political system. Vigilance against a Communist threat remained a hallmark of Suharto's thirty-year presidency. Internationally, the killings and purges were seen as a victory over Communism at the height of the Cold War.

Western governments and much of the West's media preferred Suharto and the "New Order" to the PKI to the increasingly leftist "Old Order".The massacres were described by Time as 'The West's Best News in Asia'. A headline in US News and World Report read: "Indonesia: Hope... where there was once none".[56] New York Times columnist James Reston celebrated 'A gleam of light in Asia'. Australian Prime Minister Harold Holt, who was visiting the US, commented in The New York Times "With 500,000 to a million communist sympathisers knocked off...I think it's safe to assume a reorientation has taken place."

U.S. involvement and reaction

In an article for the Spartanburg Herald-Journal (later picked up by the San Francisco Examiner and The Washington Post) journalist Kathy Kadane reported Robert J. Martens who from 1963 to 1966 was a political officer at the United States Embassy in Jakarta as saying that senior U.S. diplomats and CIA officials compiled lists of communist operatives and provided a list of approximately 5,000 names to the Indonesian Army while it was fighting the Indonesian communist party and its sympathisers. Of the list, Kadane wrote that Joseph Lazarsky, deputy CIA station chief in Jakarta in 1965 said "We were getting a good account in Jakarta of who was being picked up, The army had a 'shooting list' of about 4,000 or 5,000 people. Kadane wrote that approval for the release of names put on the lists came from top U.S. embassy officials; Ambassador Marshall Green, deputy chief of mission Jack Lydman and political section chief Edward Masters.Kadane wrote that Howard Federspiel, the Indonesia expert at the State Department's Bureau of Intelligence and Research in 1965, said 'No one cared, as long as they were communists, that they were being butchered. No one was getting very worked up about it.'

Robert J. Martens later acknowledged that he had passed a lists of names to the Indonesians but contended in a letter to the editor of The Washington Post that "I and I alone decided to pass those "lists" to the non-Communist forces, I neither sought nor was given permission to do so by Ambassador Marshall Green or any other embassy official". Martens wrote: "I also categorically deny that C.I.A. or any other classified material was turned over by me. Furthermore, I categorically deny that I "headed an embassy group that spent two years compiling the lists." No one, absolutely no one, helped me compile the lists in question." He said in the letter that the lists were gathered entirely from the Indonesian Communist press and were available to everyone.

Edward Masters later told Ms. Kadane that the Indonesian military was not a group of "village idiots" and that he believed they knew how to find Communist leaders without American help.[59] Mark Mansfield, a CIA spokesman stated: "There is no substance to the allegation that the CIA was involved in the preparation and/or distribution of a list that was used to track down and kill PKI members. It is simply not true.”

On December 2, 1965, Ambassador Marshall Green endorsed a plan to provide fifty-million rupiahs to what he called “the Kap-Gestapu movement,” which he described as an “army-inspired but civilian-staffed action group” which was “carrying [the] burden of current repressive efforts targeted against PKI, particularly in Central Java.” The Kap-Gestapu (An acronym for "Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September Tigapuluh")movement had been involved in the army-backed campaign against the communists.On Kap-Gestapu activities, activities which he assured the State Department were “fully consonant with and coordinated by the army”. Green added: "The chances of detection or subsequent revelation of our support in this instance are as minimal as any black bag operation can be."

The US continued to provide arms, tactical communications equipment and logistical equipment during the killings, some of which was requested specifically to “arm Moslem and nationalist youths in Central Java for use against the PKI.” Brad Simpson, Assistant Professor of History and International Studies at Princeton University and director of the Indonesia/East Timor Documentation Project at George Washington University stated that "The United States was directly involved to the extent that they provided the Indonesian Armed Forces with assistance that they introduced to help facilitate the mass killings."

On October 5, 1965, Green cabled Washington on how the United States could 'shape developments to our advantage'. The plan was to blacken the name of the PKI and its 'protector', Sukarno. The propaganda should be based on '(spreading) the story of the PKI's guilt, treachery and brutality'. At the height of the bloodbath, Green assured General Suharto: 'The US is generally sympathetic with and admiring of what the army is doing.'

Diplomatic cables released in 2001 describe in detail the difficulty that the United States Embassy in Jakarta had in keeping up with and understanding events during the chaotic period. "The embassy . . . was hampered in its reporting on events in the areas outside the capital by the general confusion and chaos", the history states. '"Gradually, the embassy came to realise that Indonesia was undergoing a full-scale purge of P.K.I. influence and that these killings were overlaid with longstanding and deep ethnic and religious conflicts."

Contemporary developments

Following the fall of Suharto in the 1998 revolution, the Indonesian Parliament set up a Truth and Reconciliation Commission to analyse the mass killings, but it was suspended by the Indonesian High Court. An academic conference regarding the killings was held in Singapore in 2009.

In May 2009, at roughly the same time as the Singapore Conference, UK publisher Spokesman Books published Nathaniel Mehr's '"Constructive Bloodbath" in Indonesia: The USA, Britain and the Indonesian Killings of 1965–66', an introductory-level survey of the massacres and the Western support for Suharto.

The killings have been largely omitted from Indonesian history textbooks, which depicted the killings as a "patriotic campaign" that resulted in less than 80,000 deaths. In 2004, the textbooks were briefly changed to include the events, but this new curriculum was abandoned in 2006 following protests from the military and Islamic groups. The textbooks which mentioned the mass killings were subsequently burnt, by order of Indonesia’s Attorney General.

Football News

 

© Copyright Gold Royalti 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.